Selamat Ulang Tahun, Teman

by - 12:00 PM

Hai teman.
 
Selamat ulang tahun, entah sudah berapa kali kamu berulang tahun dan aku berusaha melupakannya dan tidak mengucapkan selamat ulang tahun itu, baik secara langsung, maupun membisiki namamu pada angin. Selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun, ya selamat, teman.
 
Kamu tahu, teman. Seseorang bilang, kita terhubung kepada seseorang melalui sebuah benang, yang bisa terus menerus diulur tanpa takut putus. Dan alasan mengapa kita tidak bisa melupakan seseorang adala karena seseorang di ujung benang itu masih menggenggam erat benangnya, belum rela melepaskan. Sehingga entah seberapa dalam keinginan kita untuk melupakan, hal itu tidak bisa terjadi, karena masih ada yan menginginkannya. Lalu, apakah itu kamu, yang menggenggam dengan sangat erat hingga begitu sulit untukku melupakan?
 
Sejujurnya, ini bukan lagi tentang aku dan kamu, teman. Ini tentang diriku sendiri. Kamu tentu memahamiku, aku masih saja tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Meskipun ini semua diawali dengan bualan dan sikapmu padaku. Aku belum bisa memaafkan diriku sendiri. Sulit rasanya memaafkan diriku yang saat itu tidak mampu menahan hanyutan perasaanku untuk menyayangimu. Entah kenapa meski sudah mencoba sekuat tenaga, aku hanyut juga ke pelukanmu, teman. Aku nyaman bersamamu dan kamu dulu adalah surga duniaku.
 
Aku pergi bukan karena dirimu. Aku pergi karena aku paham, kamu adalah bualanmu, kelicikanmu, kecerobohanmu, ketidakpedulianmu, dan kamu adalah orang yang akan selalu tega meninggalkanku dimanapun selama kamu akan selalu selamat. Aku paham betul, teman. Dan aku mundur, pergi, karena aku tidak nyaman dengan dirimu yang itu. Kalau kamu tidak begitu, itu bukan kamu. Dan kalau itu bukan kamu, bagaimana aku akan nyaman bersamamu? Aku nyaman dengan kamu yang seperti itu. Tapi aku tidak bisa nyaman dengan diriku sendiri jika aku bersamamu.
 
Perpisahan bukan bagian yang aku sukai dalam hidup, teman. Kehilanganmu seperti kehilangan separuh diriku. Aku merekatkan diri melalui separuh aku yang lain untuk tetap hidup. Aku harus nyaman bersama diriku sendiri. Karena suatu saat, kamu akan berkali-kali lagi meninggalkanku dan membiarkanku membela diriku sendiri. Maka aku memilih jalan untuk tetap berdiri untuk diriku sendiri.
 
Teman, jika bahagia itu dicipta dan bukan mencipta, mungkin damai pun sama. Damai itu dicipta, bukan mencipta. Semoga pada akhirnya, hatimu cukup kuat untuk membangun damaimu sendiri. Semoga pada akhirnya, ketika suatu saat nanti kita berpapasan lagi, bukan perasaan hati yang remuk, yang terdengar nyaring diantara kita berdua. Semoga saat itu, kita bisa bersalaman dengan jiwa-jiwa yang damai dan tentram.
 
Namun selama jiwa dan suara remukan hati itu masih ada, biarkan lepas ujung-ujung benang itu diantara jemari kita. Biarkan mengurai dan terlepas. Karena aku disini membuka tanganku dan membiarkan benang itu siap tertiup angin kapanpun kamu siap. Mari, teman, untuk masa lalu kita yang pernah, meskipun hanya dalam satu tarikan nafas, sempurna.
 
 
 
 
Tamansari, 1 Desember 2015.

You May Also Like

0 comments