Selamat Ulang Tahun, Teman
Hai teman.
Selamat
ulang tahun, entah sudah berapa kali kamu berulang tahun dan aku
berusaha melupakannya dan tidak mengucapkan selamat ulang tahun itu,
baik secara langsung, maupun membisiki namamu pada angin. Selamat ulang
tahun. Selamat ulang tahun, ya selamat, teman.
Kamu tahu,
teman. Seseorang bilang, kita terhubung kepada seseorang melalui sebuah
benang, yang bisa terus menerus diulur tanpa takut putus. Dan alasan
mengapa kita tidak bisa melupakan seseorang adala karena seseorang di
ujung benang itu masih menggenggam erat benangnya, belum rela
melepaskan. Sehingga entah seberapa dalam keinginan kita untuk
melupakan, hal itu tidak bisa terjadi, karena masih ada yan
menginginkannya. Lalu, apakah itu kamu, yang menggenggam dengan sangat
erat hingga begitu sulit untukku melupakan?
Sejujurnya, ini
bukan lagi tentang aku dan kamu, teman. Ini tentang diriku sendiri. Kamu
tentu memahamiku, aku masih saja tidak bisa memaafkan diriku sendiri.
Meskipun ini semua diawali dengan bualan dan sikapmu padaku. Aku belum
bisa memaafkan diriku sendiri. Sulit rasanya memaafkan diriku yang saat
itu tidak mampu menahan hanyutan perasaanku untuk menyayangimu. Entah
kenapa meski sudah mencoba sekuat tenaga, aku hanyut juga ke pelukanmu,
teman. Aku nyaman bersamamu dan kamu dulu adalah surga duniaku.
Aku
pergi bukan karena dirimu. Aku pergi karena aku paham, kamu adalah
bualanmu, kelicikanmu, kecerobohanmu, ketidakpedulianmu, dan kamu adalah
orang yang akan selalu tega meninggalkanku dimanapun selama kamu akan
selalu selamat. Aku paham betul, teman. Dan aku mundur, pergi, karena
aku tidak nyaman dengan dirimu yang itu. Kalau kamu tidak begitu, itu
bukan kamu. Dan kalau itu bukan kamu, bagaimana aku akan nyaman
bersamamu? Aku nyaman dengan kamu yang seperti itu. Tapi aku tidak bisa
nyaman dengan diriku sendiri jika aku bersamamu.
Perpisahan
bukan bagian yang aku sukai dalam hidup, teman. Kehilanganmu seperti
kehilangan separuh diriku. Aku merekatkan diri melalui separuh aku yang
lain untuk tetap hidup. Aku harus nyaman bersama diriku sendiri. Karena
suatu saat, kamu akan berkali-kali lagi meninggalkanku dan membiarkanku
membela diriku sendiri. Maka aku memilih jalan untuk tetap berdiri untuk
diriku sendiri.
Teman, jika bahagia itu dicipta dan bukan
mencipta, mungkin damai pun sama. Damai itu dicipta, bukan mencipta.
Semoga pada akhirnya, hatimu cukup kuat untuk membangun damaimu sendiri.
Semoga pada akhirnya, ketika suatu saat nanti kita berpapasan lagi,
bukan perasaan hati yang remuk, yang terdengar nyaring diantara kita
berdua. Semoga saat itu, kita bisa bersalaman dengan jiwa-jiwa yang
damai dan tentram.
Namun selama jiwa dan suara remukan hati
itu masih ada, biarkan lepas ujung-ujung benang itu diantara jemari
kita. Biarkan mengurai dan terlepas. Karena aku disini membuka tanganku
dan membiarkan benang itu siap tertiup angin kapanpun kamu siap. Mari,
teman, untuk masa lalu kita yang pernah, meskipun hanya dalam satu
tarikan nafas, sempurna.
Tamansari, 1 Desember 2015.
0 comments