A Rie's Story #part3

by - 12:00 PM

Saya, Rie dan 2 teman lainnya tergabung dalam satu genk karena kami adalah teman sekelas di SMA selama 3 tahun berturut-turut dan teman beberapa organisasi sekaligus. Kami selalu bersama-sama bahkan terkesan nge-genk secara ekslusif. Selain Rie, dua teman saya yang lain adalah Die dan Vie. Bayangkan saja, dalam satu genk, semua berakhiran "ie" dan hanya saya saja yang dipanggil Ta. Namun seperti yang saya ceritakan sebelumnya, saya tidak bermasalah dengan nama panggilan. Tapi Rie tentu tetap ingin dipanggil Rie.
 
Saya pernah jadi teman curhatnya Rie, setiap curhatannya saya kunci rapat, tidak pernah saya sampaikan pada siapapun juga tidak pernah saya cie-cie-in, apa mungkin karena itu Rie sebal pada saya? Rie pernah curhat tentang kekecewaannya pada seorang lelaki yang dipanggil Dika. Dika ini adalah teman satu organisasi saya juga tapi beda kelas. Alkisah Dika ini pernah pedekate sama Rie, setelah Rie super baper, Dika malah pacaran sama Die, yang notabene adalah teman genk kita juga. Tapi tentu saya paham kenapa Rie begitu dongkol sama Dika dan Die. Tapi hal mengejutkan justru terjadi, Rie berteman baik bahkan cenderung ingin selalu kembaran dengan Die. Pernah sekali Rie dikembar-kembarin sama saya, dan tahu apa yang terjadi? Rie dengan ketus bilang bahwa saya tidak mirip dengannya dan saya tidak sebanding jika harus dikembar-kembarin dengannya. Nyesek banget, dikira saya mau banget gitu dikembarin sama Rie? Curhatan Rie ke saya itu tidak pernah saya sampaikan ke Die. Karena Die adalah teman saya juga. Die juga suka curhat sama saya. Tapi karena saya ini bank curhat dan tidak punya hak untuk ember jadi saya sih jadi pendengar aja.
 
Kalian mungkin heran kalau tahu saya jadi teman curhat. Yap, saya adalah teman curhat yang asyik loh. Saya selalu mendengarkan dengan seksama, memperhatikan kata-kata dan ekspresi si pencurhat. Dan kelebihan lain adalah curhatan itu tidak akan pernah tembus kemanapun. Kecuali sekarang ini. Hehehe. Alasan kenapa saya tidak ember adalah karena saya tidak menemukan cara untuk mendamaikan pihak-pihak tersebut, saya juga merasa bahwa mereka tetap baik-baik saja meskipun di belakangnya mereka saling benci dan dengan atau tanpa saya mereka itu memang sudah dasarnya benci jadi saya takut memperkeruh suasana aja.
 
Cerita dari versi Die adalah Rie menyukai Dika, tapi Dika lebih dulu menyukai Die. Die juga awalnya bertanya pada saya apakah dia harus mengorbankan perasaannya pada Dika untuk Rie? Saat itu saya bilang bahwa cinta itu tidak bisa dipaksakan, bukan berarti ketika Die menolak cinta Dika maka Dika akan cinta sama Rie. Bagaimana kalau Dika dan Die adalah jodoh? Dan itu terbukti 2 tahun lalu ketika Dika dan Die akhirnya menikah. Jadi, tentu saya ini tidak salah memberikan nasehat kan?
 
Cerita versi Dika adalah, di awal kami masuk organisasi, saya adalah perempuan pertama yang Dika keceng. Dika berusaha mendekati saya namun setelah beberapa kali usaha, Dika menyerah karena saya terlalu cuek. Kemudian Dika beralih ke Rie, Rie merespon Dika dengan baik, sayangnya ketika Dika mau mengajak Rie jalan-jalan atau mengantar Rie pulang sekolah, Rie selalu menolak. Saat itu, Rie terkesan terlalu jaim dan sok jual mahal buat Dika. Akhirnya Dika berhenti juga mendekati Rie. Selesai dengan pendekatan dengan Rie, Dika mendekati Die. Die menerima pendekatan Dika dan cinta Dika berbalas mulus di Die.
 
Versi saya sih, saya dan Dika itu cuma teman biasa. Pertama kali mengenal Dika, saya menganggap Dika itu bapak-bapak karena postur tubuhnya yang tinggi besar, berkulit gelap, berkumis dan berjanggut. Sungguh tidak ada sentuhan anak SMA kelas 1 yang imut. Saya bahkan memanggil Dika dengan sebutan 'Bapak' di awal perkenalan kami. Jadi istilah Dika dengan pedekate pada saya itu saya anggap tidak pernah ada, lagi pula bukan kebanggaan buat saya didekati Dika. Beberapa bulan setelahnya, saya dan Dika kenal baik dan menjadi teman. Di saat itu, Dika dan Die sudah berpacaran.
Saya tidak pernah menyampaikan perihal curhatan masing-masing orang itu. Biarkan saja mengalir. Rie patah hati, hidup di SMA dalam kengenesan percintaannya. Die juga pacaran dengan Dika dalam perasaan bersalah sama Rie. Dika juga pacaran dengan Die dalam perasaan ga enak sama Rie. Saya hidup di SMA dengan masalah saya sendiri saja. Hehehe. Saya tidak sempat curhat pada siapapun karena saking sibuknya jadi tempat curhat, dan juga teman-teman saya itu tidak pernah bertanya mengenai bagaimana saya. Jadinya sesuai saja dengan yang saya sebut sebelumnya, biarkan mengalir.
Masalah saya ketika SMA adalah bagaimana caranya punya panggilan "ie" juga agar saya punya kehidupan yang menurut saya lebih baik.

You May Also Like

0 comments