A Rie's Story #part3
Saya,
Rie dan 2 teman lainnya tergabung dalam satu genk karena kami adalah
teman sekelas di SMA selama 3 tahun berturut-turut dan teman beberapa
organisasi sekaligus. Kami selalu bersama-sama bahkan terkesan nge-genk
secara ekslusif. Selain Rie, dua teman saya yang lain adalah Die dan
Vie. Bayangkan saja, dalam satu genk, semua berakhiran "ie" dan hanya
saya saja yang dipanggil Ta. Namun seperti yang saya ceritakan
sebelumnya, saya tidak bermasalah dengan nama panggilan. Tapi Rie tentu
tetap ingin dipanggil Rie.
Saya pernah jadi teman
curhatnya Rie, setiap curhatannya saya kunci rapat, tidak pernah saya
sampaikan pada siapapun juga tidak pernah saya cie-cie-in, apa mungkin
karena itu Rie sebal pada saya? Rie pernah curhat tentang kekecewaannya
pada seorang lelaki yang dipanggil Dika. Dika ini adalah teman satu
organisasi saya juga tapi beda kelas. Alkisah Dika ini pernah pedekate
sama Rie, setelah Rie super baper, Dika malah pacaran sama Die, yang
notabene adalah teman genk kita juga. Tapi tentu saya paham kenapa Rie
begitu dongkol sama Dika dan Die. Tapi hal mengejutkan justru terjadi,
Rie berteman baik bahkan cenderung ingin selalu kembaran dengan Die.
Pernah sekali Rie dikembar-kembarin sama saya, dan tahu apa yang
terjadi? Rie dengan ketus bilang bahwa saya tidak mirip dengannya dan
saya tidak sebanding jika harus dikembar-kembarin dengannya. Nyesek
banget, dikira saya mau banget gitu dikembarin sama Rie? Curhatan Rie ke
saya itu tidak pernah saya sampaikan ke Die. Karena Die adalah teman
saya juga. Die juga suka curhat sama saya. Tapi karena saya ini bank
curhat dan tidak punya hak untuk ember jadi saya sih jadi pendengar aja.
Kalian
mungkin heran kalau tahu saya jadi teman curhat. Yap, saya adalah teman
curhat yang asyik loh. Saya selalu mendengarkan dengan seksama,
memperhatikan kata-kata dan ekspresi si pencurhat. Dan kelebihan lain
adalah curhatan itu tidak akan pernah tembus kemanapun. Kecuali sekarang
ini. Hehehe. Alasan kenapa saya tidak ember adalah karena saya tidak
menemukan cara untuk mendamaikan pihak-pihak tersebut, saya juga merasa
bahwa mereka tetap baik-baik saja meskipun di belakangnya mereka saling
benci dan dengan atau tanpa saya mereka itu memang sudah dasarnya benci
jadi saya takut memperkeruh suasana aja.
Cerita
dari versi Die adalah Rie menyukai Dika, tapi Dika lebih dulu menyukai
Die. Die juga awalnya bertanya pada saya apakah dia harus mengorbankan
perasaannya pada Dika untuk Rie? Saat itu saya bilang bahwa cinta itu
tidak bisa dipaksakan, bukan berarti ketika Die menolak cinta Dika maka
Dika akan cinta sama Rie. Bagaimana kalau Dika dan Die adalah jodoh? Dan
itu terbukti 2 tahun lalu ketika Dika dan Die akhirnya menikah. Jadi,
tentu saya ini tidak salah memberikan nasehat kan?
Cerita
versi Dika adalah, di awal kami masuk organisasi, saya adalah perempuan
pertama yang Dika keceng. Dika berusaha mendekati saya namun setelah
beberapa kali usaha, Dika menyerah karena saya terlalu cuek. Kemudian
Dika beralih ke Rie, Rie merespon Dika dengan baik, sayangnya ketika
Dika mau mengajak Rie jalan-jalan atau mengantar Rie pulang sekolah, Rie
selalu menolak. Saat itu, Rie terkesan terlalu jaim dan sok jual mahal
buat Dika. Akhirnya Dika berhenti juga mendekati Rie. Selesai dengan
pendekatan dengan Rie, Dika mendekati Die. Die menerima pendekatan Dika
dan cinta Dika berbalas mulus di Die.
Versi saya
sih, saya dan Dika itu cuma teman biasa. Pertama kali mengenal Dika,
saya menganggap Dika itu bapak-bapak karena postur tubuhnya yang tinggi
besar, berkulit gelap, berkumis dan berjanggut. Sungguh tidak ada
sentuhan anak SMA kelas 1 yang imut. Saya bahkan memanggil Dika dengan
sebutan 'Bapak' di awal perkenalan kami. Jadi istilah Dika dengan
pedekate pada saya itu saya anggap tidak pernah ada, lagi pula bukan
kebanggaan buat saya didekati Dika. Beberapa bulan setelahnya, saya dan
Dika kenal baik dan menjadi teman. Di saat itu, Dika dan Die sudah
berpacaran.
Saya tidak pernah menyampaikan perihal
curhatan masing-masing orang itu. Biarkan saja mengalir. Rie patah hati,
hidup di SMA dalam kengenesan percintaannya. Die juga pacaran dengan
Dika dalam perasaan bersalah sama Rie. Dika juga pacaran dengan Die
dalam perasaan ga enak sama Rie. Saya hidup di SMA dengan masalah saya
sendiri saja. Hehehe. Saya tidak sempat curhat pada siapapun karena
saking sibuknya jadi tempat curhat, dan juga teman-teman saya itu tidak
pernah bertanya mengenai bagaimana saya. Jadinya sesuai saja dengan yang
saya sebut sebelumnya, biarkan mengalir.
Masalah
saya ketika SMA adalah bagaimana caranya punya panggilan "ie" juga agar
saya punya kehidupan yang menurut saya lebih baik.
0 comments