A Rie's Story #part2
Masih tentang teman saya yang satu ini.
Kita
kadang mempunyai nama panggilan yang berbeda di setiap lingkaran
kehidupan kita. Contohnya saya, nama saya Lukita, keluarga dekat saya
memanggil saya dengan sebutan Kikit. Kemudian teman SD saya memanggil
saya Kikit atau Lukita. Teman SMP saya memanggil saya eLuk atau Kikit.
Kemudian teman SMA saya memanggil saya Nta atau Ta. Kemudian teman S1
biologi saya memanggil saya dengan sebutan Ta. Teman komunitas dan
biasanya orang-orang yang saya kenal di tahun 2011an sampai saat ini
memanggil saya dengan panggilan eL. Saya tidak bermasalah dengan
panggilan saya selama panggilan itu masih jadi bagian dari nama saya.
Bahkan sudah dua tahunan ini Aang memanggilku dengan sebutan Cantikku.
Tapi nama panggilan kadang begitu penting juga bagi seseorang, yang
kadang orang itu bisa ngambek juga karena panggilan yang menurutnya
tidak sesuai. Oke, kita panggil saja teman saya ini Rie, agar dia tidak
ngomel-ngomel.
Rie ini memiliki nama awal, sebut
saja, Ari. Nama Ari sendiri kadang memiliki nama panggilan Ar, Ri, atau
bahkan ada nama panggilan sedari bayi yang imut dengan menghilangkan
huruf R-nya dan menjadi Ai atau dilafalkan Ayi. Itu gapapa, sah sah
saja. Tapi beda lagi dengan Ari ini. Dia tidak sudi dipanggil Ar, dia
bahkan menganggap orang yang memanggilnya dengan nama Ari adalah orang
yang ingin mengajaknya bertengkar, dia hanya mau dipanggil Rie dan itu
bukan Ri. Ri dan Rie adalah dua hal yang beda. Dia harus dipanggil Rie,
ditulis seperti itu juga tapi dilafalkan Ri. Mulai berkunang-kunang?
Pernah
suatu ketika ada teman yang memanggil Rie dengan sebutan Ar-Ar-Ri-Ri,
maksudnya hanyalah bercanda, eh tapi yang terjadi Rie marah besar. Si
teman itu dimusuhi oleh si Rie ini sampai sekarang dan itu berarti sudah
10 tahun. See, bagaimana panggilan nama saja bisa berbuntut permusuhan?
Saya,
karena hapal sekali tabiat Rie ini, maka saya tidak banyak bercanda
dengan Rie ini. Yakali orang yang ngambekan diajak bercanda bisa jadi
lucu. Saya cenderung berhati-hati dalam berteman dengan Rie ini. Tapi
dulu saya pernah menjadi teman curhatnya, biasanya sepanjang jalan
Cileunyi Cicalengka menjadi saksi curhatan tentang cinta nanggungnya
pada seorang lelaki yang sekarang ini pacaran dengan teman genk kami
juga. Mungkin itu juga sebabnya kenapa Rie ini selalu kaku dan sulit
diajak bercanda, dia menjalani hidup yang ribet, seribet dirinya. 😝
Rie
menjadi nama baku yang harus digunakan kalau mau memamggil namanya.
Kadang-kadang, kita bisa ngambek sama teman yang manggil kita seenaknya,
tapi kalau yang lebih tua yang nyelenehin nama kita? Apakah kita bisa
ngambek? Mungkin Rie ga akan ngambek kalau yang nyelenehin namanya
adalah orang-orang yang dia anggap lebih tinggi dari dia.
0 comments